Kajian Taklim Bulanan ke-7 Majelis Taklim Ibadurrahman Angkat Keteladanan Ummul Mukminin Khadijah

Jember – Majelis Taklim Ibadurrahman kembali menggelar Kajian Taklim Bulanan, kali ini yang ke-7, pada Ahad, 27 September 2026. Kajian berlangsung mulai pukul 07.00 WIB hingga selesai di Masjid Kampus Universitas Dr. Soebandi Jember. Acara ini terbuka untuk umum dan dihadiri 60-an jamaah dari berbagai usia.
Kajian ini diisi oleh Ust. Dr. M. Habibi Hamzah, Lc., M.Pd., dengan tema "Setiap Pertemuan Pasti Ada Perpisahan: Pertemuan, Perjuangan dan Perpisahan Nabi ﷺ dengan Ummul Mukminin Khadijah radhiyallahu 'anha."
Mengapa Mempelajari Sirah Khadijah?
Mengawali kajian, ustadz menjelaskan bahwa mempelajari perjalanan hidup orang-orang shaleh adalah metode Al-Qur'an dan metode Nabi ﷺ dalam mendidik umat. Dari keteladanan mereka, kita bisa mengambil pelajaran dari kebaikan yang pernah mereka lakukan. Khadijah radhiyallahu 'anha adalah salah satu teladan agung sebagai istri, ibu, dan pendukung dakwah yang setia sejak hari pertama risalah.
Dari Perniagaan hingga Pernikahan yang Mulia
Jamaah diajak menelusuri nasab Khadijah binti Khuwailid, seorang wanita terhormat dari Makkah yang nasabnya bertemu dengan nasab Rasulullah ﷺ pada kakek moyang mereka, Qushay. Khadijah dikenal sebagai pengusaha sukses. Kafilah dagangnya tak pernah putus antara Makkah dan Syam.
Beliau mempekerjakan orang-orang terpercaya untuk berdagang dengan modalnya, dan salah satunya adalah Rasulullah ﷺ. Sepulang dari Syam, Maisarah, pembantu yang menemani perjalanan itu, menceritakan akhlak mulia, amanah, dan kejujuran Rasulullah ﷺ. Dari situlah Khadijah berkeinginan menikah dengan beliau. Pernikahan berlangsung ketika usia Rasulullah ﷺ 25 tahun dan Khadijah 40 tahun, 15 tahun sebelum kenabian.
Dari pernikahan ini lahir putra-putri Rasulullah ﷺ, yaitu Al-Qasim, Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, dan Abdullah. Khadijah adalah ibu dari seluruh putra-putri beliau kecuali Ibrahim.
Pendamping Setia di Saat Paling Berat
Bagian yang paling menyentuh adalah peran Khadijah saat wahyu pertama turun. Ketika Rasulullah ﷺ pulang dari Gua Hira dalam keadaan sangat ketakutan, Khadijah menenangkannya dengan kalimat hikmah yang diriwayatkan dalam Shahih Bukhari. Kalimat itu menyebut sifat-sifat mulia beliau: menyambung silaturahmi, jujur dalam bertutur, menanggung beban orang lain, membantu yang kekurangan, memuliakan tamu, dan menolong dalam kebenaran. Setelah itu Khadijah mengantarkan beliau menemui Waraqah bin Naufal.
Khadijah juga menjadi manusia pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah ﷺ sendiri mengenang pengorbanannya: Khadijah membantu beliau dengan hartanya ketika manusia menghalanginya (HR. Ahmad).
Empat Teladan Akhlak Khadijah
Ustadz memaparkan empat teladan akhlak dari kehidupan Khadijah:
- Al-'Iffah (kesucian). Di tengah masyarakat jahiliyah yang rusak moralnya, Khadijah dijuluki Ath-Thahirah (yang suci). Menjaga kehormatan diri adalah fondasi kemuliaan.
- Al-Hikmah (kebijaksanaan). Khadijah tidak hanya menenangkan dengan kata-kata, tetapi segera bertindak dengan membawa Rasulullah ﷺ kepada Waraqah bin Naufal.
- Al-Fithnah (kecerdasan). Khadijah jeli membaca kebenaran dan tidak ragu membenarkan dakwah Rasulullah ﷺ sejak awal.
- Ash-Shabr (kesabaran). Khadijah bersabar ketika kedua putrinya, Ruqayyah dan Ummu Kultsum, diceraikan karena tekanan kaum Quraisy. Beliau juga bersabar selama tiga tahun dalam pemboikotan di Syi'b Abi Thalib, menanggung lapar dan kesulitan tanpa berkeluh kesah.
Perpisahan, Duka, dan Kesetiaan yang Tak Padam
Sesuai tema kajian, jamaah juga diajak merenungi bahwa setiap pertemuan pasti berujung perpisahan. Khadijah wafat pada bulan Ramadhan tahun ke-10 kenabian dalam usia 65 tahun, dan dimakamkan di Jabal Hajun, Makkah. Wafatnya berdekatan dengan wafatnya Abu Thalib, sehingga tahun itu dikenal sebagai 'Amul Huzn (Tahun Duka Cita). Khadijah adalah kekuatan dari dalam, sedangkan Abu Thalib pelindung dari luar.
Sebelum wafat, Jibril datang menyampaikan salam dari Allah dan kabar gembira berupa rumah di surga untuk Khadijah (HR. Bukhari). Rasulullah ﷺ juga termasuk suami yang setia. Beliau tidak menikahi wanita lain selama Khadijah masih hidup. Setelah wafatnya, beliau terus memuliakan sahabat-sahabat Khadijah dan sangat terharu ketika Zainab menebus suaminya di Perang Badar dengan kalung pemberian ibunya, Khadijah.
Khadijah juga termasuk empat wanita terbaik ahli surga bersama Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim, dan Maryam binti 'Imran (HR. Ahmad).
Pelajaran untuk Kita
Di akhir kajian, jamaah diingatkan untuk meneladani Khadijah sebagai istri yang setia mendukung dakwah dengan harta dan jiwa, menjaga kehormatan diri, bijaksana di saat genting, cerdas membaca kebenaran, dan sabar menghadapi ujian. Kajian ditutup dengan doa agar Allah meridhai Khadijah dan menjadikan kita mampu meneladani akhlak mulianya.
Doorprize dan Dukungan

Selain ilmu, jamaah juga berkesempatan mendapatkan doorprize dari TaburahKu BSI. Kegiatan ini terselenggara atas dukungan Universitas dr. Soebandi Jember.
Majelis Taklim Ibadurrahman mengucapkan terima kasih kepada seluruh jamaah, pembicara, panitia, dan para pendukung acara. Semoga ilmu yang didapat membawa keberkahan dan menjadi bekal amal. Sampai jumpa di kajian bulanan berikutnya, insya Allah.
Informasi kajian selanjutnya: ikuti informasi terbaru Majelis Taklim Ibadurrahman melalui WA di 0811 315 446